Tags

, , ,

Saya dikejutkan oleh tingkah laku Aza dan Ayya 2 hari lalu. Tepatnya setelah isya dan selesai membaca buku bersama. Istri ijin sebentar untuk pergi kerumah depan (tempat orangtua) untuk meminjam sesuatu. Tinggallah saya dan anak-anak dikamar.

“Za, tadi siang ayah dibekam” kata saya
“aaah, apa itu ?!” Aza tanya

Saya langsung buka baju menunjukan bekas Bekam berupa lingkaran merah berjumlah 8 bekas dipunggung. Anak-anak sontak teriak “waaaah, kenapa gitu yah?” Kata Aza. Ade Ayya gak mau kalah “napa itu yah” tangan mungilnya menyentuh salah satu bekas luka jarum.

“sakit ya?” Aza bertanya. Saya hanya diam sambil meluruskan badan.

Aza bangkit dan menyiapkan tempat tidur buat saya, menyiapkan selimut. Saya disuruh baring ditempat yang telah Aza persiapkan. “bobo sini Yah, ayah itu lagi sakit” kata Aza. Saya pun ikut kata-kata Aza pindah tempat dimana dia perintahkan.

Ade Ayya juga bangkit keluar kamar, saya mendengar gelembung air galon berbunyi “blubup”. Apakah Ayya ambil air buat saya? dia muncul “ni Yah, enum duyu”. Ayya menyodorkan satu buah gelas kaca berisikan air mineral dari gallon.

Perlakuan ini membuat saya kaget sekaligus terharu. Apakah begini rasanya seorang Ayah yg dirawat oleh anaknya. Sakit bekas bekam tiba-tiba hilang. Tak perduli seperti apa rasanya, tergantikan dengan kasih sayang anak-anak. MasyaAllah

Dipembaringan saya, Aza sibuk menutup seluruh badan saya dengan selimut. Tidak ada satu kulitpun tak tertutupi. Hanya wajah saya yang bebas dari selimut. Setelah sempurna, keduanya duduk dikiri dan kanan saya. Tangan mungil mereka memijit kaki saya masing-masing satu.

Setelah selesai, Aza memegang jidat saya dan bilang. “istirahat ya Yah, semoga lekas sembuh”
Ade Ayya juga mendekat, dan berbisik kepada saya “pat embuh ya Yah” dilanjutkan kecupan hangat dari seorang putri berumur 3 tahun.

Hati saya luluh, hati saya haru, hati saya bahagia.

Semoga terus begini ya nak. Selalu sayang dan saling menjaga.

Advertisements