Tags

, , ,

Dibawah ini merupakan satu ayat yang saya baca ketika sakit tgl 4 April 2015.

doaWaktu itu saya dan istri sedang berkunjung ketempat Ka’i dan nenek Aza di Samarinda. tepat pada pukul 06.00 sore kurang dikit. saya dan istri pergi membeli obat alergi pilek saya Sanexon 8mg, Rhinos dan antimo anak untuk perjalanan pulang ke Balikpapan besok harinya.

sesampainya di Kimia Farma, perut saya terasa sakit. karena sudah terbiasa, saya fikir ini hanya sakit perut biasa. di perjalanan pulang dari Kimia Farma sakit perut itu makin menjadi, bahkan sakit itu bergerak dari dalam perut bagian depan kearah samping kerasa di ginjal. saya hentikan motor. sakit sekali.

istri saya keseberang jalan untuk membeli jamu tolak angin, sontak saya langsung minum. sedikit reda. saya berusaha sekuat tenaga mengendarai sepeda motor untuk sampai kerumah.

sesampainya dirumah saya berbaring sejenak. sakit itu makin menjadi, seperti ditusuk sesuatu perut saya. berbaring lurus salah, berbaring nungging salah, tiarap salah, berdiri salah. orangtua dan istri mulai khawatir.

Pertolongan pertama perut saya diberi minyak angin, dan ternyata itu salah. ketika sakit perut indikasinya adalah masuk angin. ketika masuk angin jangan pernah diberi minyak angin karena akan memecah angin tersebut (itu pengakuan nenek si pencabut angin). susah memang diterima dengan akal sehat. tapi pengobatan tradisional ini cukup membantu saya sedikit lebih tenang.

Istri saya turut menangis tidak tau harus berbuat apa, ibu saya menelpon temannya yang mengerti pengobatan tradisional cabut angin tersebut. belakangan saya tau nama penyakit tersebut Sugang atau Angin duduk. konon, ketika angin tersebut hinggap di jantung atau paru-paru. nyawa seseorang bisa leyap begitu saja. bahasa dokter adalah serangan jantung. (Alhamdulillah, saya tidak ada riwayat penyakit jantung).

ibu saya dan istri selalu mengucapkan kalimat sabar, karena saya mengurangi sakit berguling-guling di ranjang. sakit itu luar biasa, sampai hari ini saya tulis tentang ini masih saya ingat bagaimana sakitnya.

Bu Wanti, temen ibu saya yang tau betul bagaimana menyembuhkan penyakit Sugang itu. tapi sebelumnya, mertua saya pun ikut serta mengoleskan kunyit untuk mengusir angin tersebut di dalam tubuh saya. tapi masih belum lenyap benar.

Bu Wanti meneruskan penjuangan mertua saya. sontak ibu Wanti menyentuh badan saya dan mengeluarkan angin tersebut dengan caranya. ntah bagaimana, sakit itu berkurang tiba-tiba.

akhirnya saya tenang, saya pindah ke kamar sebelah karena dikamar tempat saya berobat telalu banyak keluarga yang menonton saya kesakitan.

1 jam saya istirahat dan semua sudah pada pulang. sakit itu menyerang lagi, tapi bukan karena anginnya. tetapi lebih kepada bekas serangan tersebut. begitu cerita Bu Wanti memberitaukan saya setelah mengobati.

sakitnya masih luar biasa, tidur salah dan berdiri pun salah. sempat berfikir apakah ini hari terakhir saya di dunia. saya menangis, saya melihat Ayya anak saya yang tertidur pulas  masih kecil mungil, dan Aza yang tertidur pulas di kamar sebelah. saya menangis meminta maaf kepada Allah SWT sebanyak-banyaknya. sekilas saya sadar betul manusia itu tidak ada kuasa apa-apa. kita hanya bisa meminta ampun dan kesembuhan dariNya.

Istri saya terbangun, ikut menangis juga. dia memeluk saya dengan haru membuat saya sedikit lebih tenang. lalu istri saya teringat tentang doa yang bisa mengurangi rasa sakit. ketemulah di instagram doa pada gambar diatas. saya praktekkan setelah itu istri saya yang mengobati. atas keyakinan saya terhadapNya. minta kesembuhan untuk memperbaiki diri, saya ingin sekali hidup lebih lama, beramal lebih banyak, dan melihat anak-anak saya menikah dan mempunyai anak.

setelah itu sakit itu berkurang, dan saya bisa tertidur pulas. pengakuan istri saya yang terjaga semalaman (I Love u So much hun) baru tenang ketika saya mengorok tidur.

***

Paginya saya bangun dengan rasa sakit di bagian perut hilang. saya yakin Allah yang menyembuhkan. Allah memberikan kesempatan saya untuk hidup lebih lama. kejadian ini sangat berharga bagi saya saya pribadi dan istri.

saya jadi lebih menghargai napas, lebih menghargai kentut, lebih menghargai waktu luang bersama keluarga. dan harus memperbaiki kualitas sholat saya. semoga saya dan keluarga selalu diberi hidayahNya. aamiiin.

Terima kasih Allah telah memberikan kesempatan untuk merasakan sakitnya yang engkau berikan dan memberikan kesembuhannya pula.

Advertisements