Hamil

Sudah jalan 7 minggu istri hamil anak ketiga. Sebelumnya Aza (Putra) yg sudah berumur 6 tahun, dan Ayya (putri) berumur 3 tahun.
Kehamilan istri kali ini saya merasa sangat kasian sekali. Mual hingga muntahnya membuat wanita yang saya cintai itu lemah tak berdaya. Harus berbaring istirahat.

Sempet 3 hari 2 malam nginep di rumah sakit untuk observasi untuk rasa mual yang berlebihan tersebut, dan mendapat hasil mual normal karena kehamilan. Hanya saja, maagnya jadi ikutan kumat. Setiap kali makan, muntah. 

Hamil kali ini saya menemani sejak test pack. Kedua anak sebelumnya ketika test pack saya sedang business trip keluar kota. Moment ini bener-bener berharga buat saya. Buat istri saya juga.

Ada hal yang menarik. Bahwa, istri saya ingin selalu dekat, ingin terus dipeluk, didekap, di perhatikan. Katanya, bawaan hamil. Istri mengaku bahwa, rasa ini sama seperti hamil Aza anak pertama kami. Jika hamil Ayya, setiap malam saya harus tidur jauh-jauh, gak boleh deket. 

Doakan istri saya untuk kuat ngejalani kehamilan yg lumayan berat buat dia. Saya sangat kasian ketika mendengar suara muntahan yang begitu menyiksa. Karena saya tau betul bagaimana itu muntah. Karena saya dulu suka mabuk darat.

Dirawat Aza dan Ayya

Tags

, , ,

Saya dikejutkan oleh tingkah laku Aza dan Ayya 2 hari lalu. Tepatnya setelah isya dan selesai membaca buku bersama. Istri ijin sebentar untuk pergi kerumah depan (tempat orangtua) untuk meminjam sesuatu. Tinggallah saya dan anak-anak dikamar.

“Za, tadi siang ayah dibekam” kata saya
“aaah, apa itu ?!” Aza tanya

Saya langsung buka baju menunjukan bekas Bekam berupa lingkaran merah berjumlah 8 bekas dipunggung. Anak-anak sontak teriak “waaaah, kenapa gitu yah?” Kata Aza. Ade Ayya gak mau kalah “napa itu yah” tangan mungilnya menyentuh salah satu bekas luka jarum.

“sakit ya?” Aza bertanya. Saya hanya diam sambil meluruskan badan.

Aza bangkit dan menyiapkan tempat tidur buat saya, menyiapkan selimut. Saya disuruh baring ditempat yang telah Aza persiapkan. “bobo sini Yah, ayah itu lagi sakit” kata Aza. Saya pun ikut kata-kata Aza pindah tempat dimana dia perintahkan.
Continue reading

Ciee….Cieee

Setiap saya dan istri diskusi ada suara dari dua kurcaci (anak-anak)
“cieee..cieeee”

Setiap istri saya tiba-tiba mencium lalu memeluk saya juga ada suara dari dua kurcaci
“cieee..cieee”

Setiap saya dan istri makan malam bersama sambil diskusi juga ada suara dari dua kurcaci
“cieeee…cieeee”

***

Entah dari mana mereka (anak-anak) mendapat sebutan tersebut, ntah dari tontonan yang mereka tonton. entah dari anak-anak sekitar kampung. selama tidak menggunakan kata kasar, aman saja.

Storyteller

Tags

,

Hari ini kami di undang oleh om Iwan utk datang ke hotel Aston dimana mereka menginap. Om Iwan sekeluarga menginap di apartemen Aston dalam rangka ulang tahun Ayyi putri bungsu yang kelima. tidak ada acara khusus, hanya mengundang para sepupu Ayyi yang satu angkatan. termasuk Aza dan Ayya.

Setelah selesai mengantar, saya pergi ke kantor untuk mengerjakan pekerjaan yang memang saya rencanakan diselesaikan hari yang sama. kebetulan gedung kantor saya berada satu kawasan hotel Aston.

Setelah 2 jam lamanya, acara berubah ke COCO LAND, sebuah tempat bermain dan belajar untuk anak-anak. tiket masuk per anak 1 jam adalah 75rb, jika maen sepuasnya sampe lelah 115rb.

Aza ikut Om Iwan sekeluarga di mobil menuju COCO LAND, dan Ayya ikut kami menggunakan motor karena memang jumlah personel melebihi kapasitas mobil.

tapi bukan itu point dari cerita kali ini. pointnnya adalah kemampuan Aza bercerita.
Continue reading

No Gadget after 18:00

Dimulai quartal kedua tahun 2017 ini, saya dan istri memutuskan untuk tidak menggunakan smartphone setelah bada magrib. kegiatan akan kami fokuskan perhatian kepada anak-anak.

Pada hari pertama berlangsung sangat sukses, kami bermain dan tertawa bersama. bermain tebak-tebakan warna untuk Ayya, memuji lukisan Aza yang menggambar sebuah kendaraan yang memang jauh dari sempurna, hanya saja Aza dapat mempertanggung jawabkan dengan menceritakan apa yg digambarnya.

Kami juga mendengarkan Ayya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kami harus menyimpan tawa karena takut Ayya berhenti bergaya karena malu ditertawakan. karena kalimat Ayya belum sampe benar. tangan kanan memegang tongkat yang dijadikan microphone, dan tangan kiri mengibarkan bendera merah putih yang baru saya beli seharga 10rb rupiah dan saya ikatkan pada pipa kecil.

“Indonensa Laya, meldeka, meldeka, tanahku, negeriku, yang kuciiiita”
“Indonensa laya, meldeka, meldeka, iduplah indonena laya”

Hari kedua, istri saya harus melancarkan baca Alquran karena akan ada ujian. tetap tanpa gadget. istripun belajar dikamar dengan sepengetahuan anak-anak. “ibu ngapain?” tanya Aza. “belajar nak, agar lolos ujian baca Quran” jawab istri.

saya pun mengambil buku yang sudah saya beli beberapa bulan lalu dan belum dibaca. kami larut dalam kesibukan sendiri-sendiri. Ayya pun ikut menggambar bersama Aza. tapi ada yg beda dari kesibukan kami, yaitu kami tetap saling memberi perhatian. beda sekali ketika kami masing-masing memegang smartphone.

Alhamdulillah, kami sukses tanpa smartphone setelah bada magrib, tepatnya jam 18:00. tak ada salahnya terus dilakukan. anak adalah investasi dunia maupun akhirat. karena salah satu yang menyelamatkan dari api neraka adalah doa anak yg sholeh dan sholehah.